Thursday, 27 November 2014

Mahoni tepi Sungai

Lukisan Pohon Mahoni jatuh
Sungai tersiram hujan coklat lembayung
Membayang linang dimata elang
Kepakan kokoh membawanya ke angkasa tua yang warnanya kuning

“Bagaimana keindahan keanggunan yang digambarkan?”

Ribuan Mineral seperti anak-anak kijang yang lincah
menghambur meliuk mengaliri dada lembah
Membentur batuan pecah kemudian tumpah
Cahaya pendar mentari memeluk mesra setiap yang tumbuh
cahaya kian ceria menghampiri yang gundah
tangan lembutnya menyusuri anak-anak alam yang gelisah
tidak luput yang mati pun disentuh
menjadi pupuk yang mengayakan perut ibunda yang selalu tabah

Bumi!
Rindang matahari riuh riang menari-nari
Angin sejuk mengalir setiap hari
Burungpun tak bosan untu selalu bernyanyi

Siang itu Sungai berwarna biru tiba lembah
ia datang dari kedalama keluasan yang jauh
Saat ia berhenti dan melihat sekeliling
Dia melihat sebutir air memeluk ranting dan dahan riuh
Pertama Sungai bekata, disajikan pujiannya untuk Pohon Mahoni
Kemudian hormat memulai percakapan ini

'Bagaimana Engkau ciptaan yang agung!

Ibu yang diperutmu menyimpan kesejukan?’
Pohon Mahoni menjawab, "Tidak terlalu baik
"Hidupku adalah eksistensi belaka
Hidupku adalah penderitaan lengkap
Hidupku dalam bahaya, apa yang bisa Aku katakan?
Keberuntunganku adalah keburukan mutlak, apa yang bisa Aku katakan?
Aku terkejut dengan keadaan
Aku mengutuk!
Yang pasrah seperti kami tidak berdaya
Kemalangan mengelilingi mahluk seperti kami selamanya
Tidak ada kebaikan harus berurusan dengannya
Semoga Allah melindungi kami dari Mahluknya

”Manusia!”

Dia bergumam,
Dia menjual batangku, jika badanku menua
Dia merontokkan daunku dengan kepintaran yang menghancurkan
Mencerabut akarku, ia selalu merusak hak kami

jika terjadi penurunan susu 
Aku yang merawat anak-anaknya dengan susu
Aku memberi mereka kehidupan baru dengan susu
Ya ampun, dilunasi dengan ekploitasi

Mencabuti bangsa kami, mengeruk isi bumi
Doaku kepada Allah adalah: berilah kami Pohon Mahoni ini belas kasihan!

Setelah mendengar cerita Pohon Mahoni seperti ini 
Sungai itu menjawab, 'keluhan ini tidak adil
Meskipun kebenaran selalu pahit
Aku akan berbicara apa yang adil
Padang rumput ini, dan angin dingin ini
Rumput hijau ini dan bayangan ini
Kenyamanan, berada di luar mejadi harapan!
Mereka bukanlah alasan untuk kita mengutuk!

Kita berhutang kesenangan

Kita berhutang atas semua kebahagiaan
Kita mendapatkan semua kemakmuran
Apa yang lebih baik bagi kita, kebebasan atau perbudakan padanya?

“bukankah kamu adalah mahluk yang rendah, lalu Allah mengangkatmu. Bukankah kamu dahulu adalah mahluk yang tersesat, lalu Allah memberi petunjuk kepadamu. Bukankah kamu dahulu adalah mahluk yang hina, lalu Allah memuliakanmu. Lalu apa yang hendak kau lakukan kepada Rabbmu dihari esok”

Bahaya mengintai kesumat kesombongan
Tidak adil adalah keluhan kita kepadanya
Jika Engkau menghargai kenyamanan kehidupan ini
Engkau tidak akan pernah mengeluh karena Manusia

Mendengar semua ini Pohon Mahoni merasa malu
Dia menyesal untuk mengeluh
Dia merenung atas yang baik dan yang buruk
Dan dengan serius dia mengatakan ini,
“Dengan kedasyatan dan kedalaman yang menyejukan adalah kelebihannya,
Meyakinkan adalah saran dari Sungai’

0 komentar:

Post a Comment