Friday, 15 May 2015

Ngajak Anak Jumatan

SETIAP orang tua yang dikaruniai anak, ingin mengajarkan banyak hal pada anaknya. Begitupun dengan saya.

Begini ceritanya, anak saya Verro sudah hampir genap 3 tahun. Saya kira, diusia segitu, sudah waktunya bagi saya untuk mengenalkannya dengan jumatan.

Memang bukan sekali ini saja dia saya ajak ke Mushola (Masjid). Yang ini lain. Jumatan ndesss. Spesial mas brooo.... Sejak satu tahunan dan beranjak jalan Verro sudah biasa ikut kawan-kawan yang lebih dewasa ngaji setiap jam 4 sore atau ngaji lagi sehabis magrib dirumah guru ngaji. Loh kok guru ngaji?…. wong tuane nang ngendi?…. (orang tuannya kemana?….. ) #he. Pertanyaan ini sangat relevan dan penting sekali untuk dijawab. Tapi Pleace deh… lain kali aja ya ceritannya ...#ngeles…

Saat pertama Verro jumatan, saya heboh sendiri, dari milih-milih baju koko, nyemprotin minyak wangi ke baju dan sajadahnya dan puncak acarannya adalah, nyisir rambut Verro ala mohawk biar kelihatan kejantanan(ayah)nya. #he.. Alhamdulillah lancar, setelah sampai di TKP, Verro duduk anteng sampai ritual jumatan selesai. 

Mekipun harus ada yang dikoreksi, besok lagi Verro gak perlu pakai sandal karena waktu pulang saya mesti repot nyari sandal mungil yang nyelip ditengah-tengah ratusan pasang sandal swalow yang berjajar berantakan di depan pintu masuk masjid.

Kelang lima hari berikutnya, ahirnya waktu jumatanpun datang lagi, kali ini Verro sudah mandi dan siap nungguin ayahnya mandi sambil nonton TV. Karena pada waktu itu suasana cukup cerah dan cenderung panas, TV cocoknya sama kipas angin bukan? Jadi Verro nunggu ayahnya sambil nonton TV dan kipas anginan…… Sayapun berusaha secepetnya beberes agar Verro tidak kambuh penyakit gak sabarannya…. Setelah siap, “yuk kita kemon”… saya mingsrek, loh, kok gak ada gerakan, setelah saya telisik lebih dalam ternyata jagoan saya lemah pasrah didepan kipas angin… Merem tur ayem…. Waduwh….., gagal deh kali ini.

Jumat berikutnya saya berusaha bergerak secepat mungkin agar tidak terjadi seperti kejadian minggu sebelumnya. Jangan sampai ketiduran lagi sebelum jumatan!

Setelah memasuki masjid, Verro duduk diam seperti biasannya, dia mungkin ingat warning dari saya, “awas kalau nanti rewel dan terlalu banyak gerak, besok gak ayah ajak lagi!”, saya kira dia paham maksud ayahnya kali ini.

Sembari mendengarkan ceramah, lewatlah kotak amal di depan kami, dengan segera Verro njembreng selembar uang berwarna kuning (karena Verro baru bisa membedakan warna – uang kuning dan uang merah) yang sudah disiapkan ibunya sebelum berangkat untuk dimasukan ke kotak. Inisatif kami, orang tanya, agar kelak Verro bisa belajar berbagi rizki dan iklas. Hmmm... 

Setelah memasukan uang ke kotak, Verro mulai membrondong saya dengan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang, kira-kira dia tanya begini, “ngopo nglebokke duit nang kotak yah?, ngopo yah, ngopo yahhh….” (kenapa kita mesti memasukan uang ke kotak amal), saya tidak menjawab, berusaha menggeser duduknya dengan duduk di pangkuan saya. Saya usap-usap punggungnya, saya arahkan agar kena kipas masjid dan…. pulaslah… Saya pikir kali ini saya salah kira soal mengajari beramal….. yang jelas Verro boro-boro ingat warning dari saya!!! Betapa naifnya saya bukan?!

Jumat berikutnya, saya sudah paham, saya rasa ada beberapa hal yang memang sudah pantas saya ajarkan dan ada juga yang belum saatnya saya ajarkan. Disamping akan memunculkan begitu banyak pertannyaan soal kotak amal, dia juga belum bisa mengerti arti 'memberilah dengan tangan kananmu dan jangan sampai tangan kirimu mengetahuinya'. Begitu kira-kira makna haditsnya.

Jadi untuk jumat kali ini tegas saya putuskan Verro gak perlu dipegangi uang untuk mengisi kotak amal, disamping menghindari ‘ria’ yang tidak dia sadari, saya juga tidak mau nanti terlalu benyak pertannyaan-pertanyaan konyol. Titik!

Sambil mendengarkan ceramah, seperti biasa, tibalah saatnya kotak amal di depan kami. Kontan Verro bertanya, “yah, ngendi duite?” (mana uang untuk ngisi kotak amal?)… saya hanya geleng kepala, “ayah ora ndue duit yo?”…(ayah gak punya uang ya…….), asem tenan pertannyaane, isin aku!!!…., kontan saya clingak-clinguk, ternyata ada beberapa orang yang memperhatikan dialog searah kami, sayapun berusaha untuk memotong pertanyaan Verro dengan menganggukan kepala dan mengeluarkan selembar uang kertas dari kantong baju. Saya kira itu akan menyelesaikan masalah, tapi,…“yah, duit sing merahkan nggo tuku es krim, engko aku gak tuku es krim pie?….” (uang merah itukan buat beli ek krim, nanti Verro gak bisa beli es krim kalau uangnya dimasukan ke kotak amal?)

Walah. Sudah. Sudahlah. Untuk jumat depan. Saya jadi berfikir ulang untuk ngajak Verro jumatan lagi. Jujur, saya takut dan belum siap kalau dibrondong petanyaan-pertannyaan aneh dan tak terduga lainnya dari Verro….. Judule, Bukane jumatan malah momong bocah! Ayahku ngambekan, mungkin pikir Verro pada ayahnya…

Nah… begitulah….Menurut sahabat-sahabat sekalian, bagimana saya harus menyikapi, apakah saya sudahkan ngajak Verro jumatan, nunggu waktu dimana dia sudah nggenah? atau pie yooo…..???? Atau memang waktunya saja yang belu tepat, wong Verro juga belum genap 3 tahun?

Tapi bagaimanapun perjalanannya, apapun kejadiannya, akan sangat rugi jika seorang ayah tidak ada waktu untuk ngajak anaknya jumatan untuk pertama kalinya. Pertama loh ya… Pertama. Saya kira. Walaupun, selanjutnya memang saya harus banyak bertanya dan belajar lagi cara mendidik anak yang benar. Bukan begitu?

Salam. Jangan lupa bahagia…

0 komentar:

Post a Comment