Friday, 15 January 2016

Sedih-Bahagianya saat Mengantar Adikku Nikah

Jumat 18 Desember 2015. Hari yang tidak biasa bagiku. Bangun tidur pada 05.30 WIB, selepas itu mandi dan membangunkan anakku Verro dan memandikanya. Istriku sudah duluan bangun. Ngecek barang bawaan, menyiapkan sarapan. Juga dandan.

Waktu menunjuk pukul 8.00, ketika Kak Nadi (Wak Cik) supir travel tetangga kami membunyikan klakson Xenia-nya. Tin..tin..tin. Kami akan diantar ke Bandara Fatmawati Bengkulu. Tak lupa kami pamitan tetangga kanan-kiri, juga bapak-mama mertua.
Perjalanan dari tempatku, Musi Rawas menuju Bengkulu kurang lebih empat jam. Jalan yang berkelok-kelok membuat Verro mabuk berat dan tak jarang meminta pulang. Tak tega melihatnya muntah berkali-kali.

Pada 12.30 ahirnya sampai juga di bandara. Lega rasanya. Jadwal pesawat pukul 14.45, tak apalah sedikit menunggu. Sambil momong Verro yang sudah mulai bugar dan lelarian di terminal.

Disaat menunggu, ada petugas dari salah satu Maskapai membagikan kotak makanan. Sudah bisa ditebak. Delay? Verro sudah ribut lagi. “kok gak berangkat-berangkat yah?.....”. “sabar”.

Sekitar pukul 16.00 pesawat ahirnya datang juga. Setelah semua penumpang naik dan siap take off, eh malah disuruh putar balik. Dengar-dengar ada buron nyusup di pesawat yang aku tumpangi. “mbok ya naik bis atau jalan kaki saja kalau jadi buron itu, jadi gak gampang ketangkep,... cukk!”

Setelah penumpang yang dimaksud dijemput paksa, ahirnya pesawat terbang juga. Waktu telah menunjukan pukul 17.00. Cuaca agak buruk. Hujan lebat, awan hitam tebal dan kilat terlihat jelas dari jendela. Petugas dalam pesawat cerewetnya minta ampun. Peringatan ini-peringatan itu. Serasa naik odong-odong. Goyang-goyang dan ser-seran rasa di dada. Ah, ini kali ya salah satu fungsi utama pesawat. Membuatku jadi rajin berdoa di dalamnya. “Sem!”
Bandara Soekarno-Hata pukul 18.10. Alhamdulillah.

Setelah ngantri bagasi, lanjut ke halte bus Damri untuk melanjutkan perjalanan ke Kemayoran dan lanjut lagi ke Purwokerto. Pukul 21.00 kami berangkat. Verro pulas. Ah, macet lagi-macet lagi. Seharusnya pukul 3.30 sudah sampai, eh, malah sampai pukul 07.00 pagi, tapi tak apalah. Mau apa?

Tanggal 19 Desember sudah di Ajibarang (Purwokerto).
Ibuku sudah menunggu. Tanggal 23 Desember kami sekeluarga akan ke Blora tempat bulik Nur. Adiknya ibuku yang diberi mandat untuk menyiapkan ubo rampe seserahan lamaran. Serta yang tak kalah penting adalah sowan dan menyusun rencana baik di tempat Pak De Pomo yang sudah di dapuk untuk menjadi wakil dan jubir pengantin pria yang juga tinggal di Blora.

Tiket Kereta Api untuk empat orang tujuan Semarang sudah dibeli. Rencananya memang sambil jalan-jalan naik kereta dan setelah sampai semarang kami akan naik travel tujuan Blora.

Sebelum itu memang HP ibunya Verro hilang yang dengan gembira ahirnya beli HP baru. Eh, maksudnya sedih HP-nya hilang dan gembiranya ya gitu deh, mosok beli HP baru kok sedih sih?

Setelah ngurus nomor di Grapari, kami siap-siap beberes. Ndilalah ibu grememeng laporan kalau HP-nya juga rusak. Waktu itu sekitar pukul 14.00 hari selasa tanggal 22 Desember.
“Ya sudah, pake saja HP-ku bu, sini mana kartunya?” kataku. Kemudian SMS masuk dibaca. Bagai petir disiang bolong. Ibuku tertunduk. Histeris. “Pakdemu Dib, bulik Nur bar ngedusi Pak De Pomo”. Pakde Pomo Meninggal dunia. Mendadak.

HP ibuku mati apa iya sebuah pertanda?

Sudahlah, bukan itu juga masalah utamanya. Mau tidak mau tiket kereta api dibatalkan. Mau tidak mau juga ahirnya kami naik mobil carteran menuju Blora sore itu juga. Walaupun badan terasa belum hilang capeknya. Namanya juga musibah.

Setelah melakukan perjalanan semalaman, pada rabu 23 Desember pukul 07.00 pagi, sampai juga kami di Blora. Bulik Nur duduk sendiri di depan jenazah yang sudah terbujur diatas meja diruang tamu. Sendiri.

Pukul 11.00 WIB jenazah pakde Pomo-pun dimakamkan.

Wong sudah jadi rencana ibu. Ahirnya kami semua menginap selama menunggu hari H pernikahan adikku Rino yang rencananya digelar pada tanggal 2 Januari 2016. Sebenarnya ya tidak enak hati aku pada bulik Nur yang kian kami repotkan. Aku hanya bisa bilang. Terimakasih yang tak terhingga pada Paklik Samsuri dan Bulik Nur. Matur nuwun.

Ditambah, selama di tempat bulik Nur kami semua kok ya sakit berjamaah.Sakit mah-ku kumat ditambah gejala tipes. Rino demam tinggi. Verro juga demam. Tapi untung ada saudaraku sepupu Mas Mantri Samir Khan yang siap sedia memasok obat-obatan. Suwun.

Syukurlah, saat hari H sehat semua. Kami serombongan dari Blora berangkat ke Ngawi. Yang unik. Tak lupa kami bawa seekor ayam yang kami sedekahkan sebelum menyeberangi jembatan kali Bengawan Solo. Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Aku lupa tanya apa itu maksudnya. Tapi, ya sudahlah. Yang aku tahu, orang yang dikasih ayam kelihatanya bahagia.

Alhamdulillah. Prosesi pernikahan berjalan lancar.
Sebelum pulang ke Sumatera, tak afdol jika tak mampir ke tempat mbakyunya istriku yang kini tinggal di Kebumen. Suwun Mas Sabit Banani dan Ibu Zia. Cuma itu yang bisa aku sampaikan. Selebihnya saling mendoakan untuk kebaikan. Begitu to?

Setelah menginap sehari, kami ke Ajibarang lagi dan menginap semalam lagi disana. Sorenya, kami berangkat bersama manten anyar Rino Wahyuria Abadi dan Yuwanita Tri Sulistyaningsih menuju Soe-ta. Aku sekeluarga menuju bengkulu dan manten-nya kembali ke Belitung. "Sampai jumpa lagi?"

Pesenku. Yang rukun ya adik-adikku.

Sambil ku hapus air di sudut mata.

Setelah selesai acara, kami sekeluarga balik ke Blora dan kemas balik ke Purwokerto lanjut acara Ngunduh mantu tempat mempelai pria. Syukuran saja. Beritahu tetangga kanan kiri. Dengan alasan sederhana tapi kuat. Jika suatu saat adikku Rino pulang dengan membawa anak, tetangga gak akan rempong bertanya, “lah, kapan nikahnya?” itu saja. Aku dulu juga begitu.

3 comments:

  1. OOOoooo... begono keadiannya brohhh

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete