Tuesday, 7 June 2016

Kakak-kakak ke-kirian, Bertaubatlah!


Jikalah yang di tuding kiri kuminis itu adalah mereka yang sok-sok-an pakai kaos bergambar palu arit atau dia yang khatam Das kapital Karl Marx lebih dulu timbang Juz Amma, tak perlulah kau sikapi grombolan macam mereka dengan bersungut-sungut dan atau Allahhuakbar 3x-an. Setahuku, itu hanya baik diteriaken saat takbiran, walaupun puasamu cuma diawal dan di ujung Ramadhan.

Sista-sista islami yang rohimakulullah yang anti kuminis, mungkin saja kan, salah satu yang dituding kominis itu bisa jadi berpotensi menjadi pacarmu: nak-anak Fakultas Filsafat atau IAIN yang dianggap sarang kuminis model baru, (emang itu semacam model celana cut bray brosis!), walaupun jujur-jujuran, dari semua mahasiwa itu hanya sedikit yang suka membaca buku-buku kiri, nah, mungkin jomblo manusia macam merekalah yang dimaksudken antek kuminis walau saya pribadi lebih mahfum jika mereka dipanggil aktifis. Mereka itu sexy loh! Walaupun agak awut-awutan memang.

Dan jika kamu sudah cukup solihah dengan jilbab sar’i-mu dan sudah nanggung jadian, jangan gegara itu kamu mutusin hubunganmu dengan ngasih doi permen kiss yang ada tulisannya: teman! dan, itu sama halnya, hanya karena ayahmu suka beng-beng dingin dan pacarmu suka beng-beng yang gak dingin. Lalu putus. Trus gimana jadinya Agus Mulyadi yang gak bisa ngunyah suka beng-beng dengan wajar?! 

Buat Mas Broo yang kedanan buku-buku kiri. Pesanku, membaca buku memang fenting, tapi membaca arah asmaramu jauh lebih fenting! 

Baiklah, kakak-kakak jomblo ke-kirian yang masih asik ngeloni buku-buku kiri timbang kucing, begini. Melepas kejombloan memang tidak mudah. Tapi, Secuil nasehat yang paling aku ingat dari sekian banyak wejangan yang aku terima sebelum aku memuntuskan untuk menikahi pacarku 5 tahun lalu, “Hidup sungguh sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya”, ujar Mas Pram. 

Apa? Ojo misuh, “kuminis ndasmu!” tambah keruh tafsirannya. Ojo kejeron Lik? Dalam kasus ini, saya sendiri merasa aneh, kalau boleh membandingkan, dulu, waktu Osama bin Laden dituding sebagai dalang tragedi WTC 11 september 2001, dia bisa jadi sosok fenomenal yang ‘laris dipasaran’.

Kaos-kaos bergambar dirinya berjajar di mal-mal sampai lapak-lapak baju dipinggir jalan. Padahal, saat itu dia dianggap musuh dunia. Tapi entah kenapa, kini, para penjaja kaos itu tidak lagi berlomba-lomba menjual gambar yang lagi trend di momen ke-emas-an-nya sekarang ini – Palu Arit! Bukankah prinsip ekonomi mengatakan: makin sensasionalnya satu hal, maka otomatis dia makin laku dipasaran, lalu, kurang tenar gimana lagi gambar palu arit itu sekarang coba??

Kok bisa ya, kaos bergambar palu arit tidak nge-hits seperti kaos oblong My Trip My Adventure? Apa bedanya? Wah, ternyata dizaman teknologi sedang merajai dunia persilatanpun hantu kuminis masih cukup ditakuti. Coba deh di dengkul Fikirken. 
Gak kuat miker, eh, mikir? Angkat tangan. 

Kalau begitu. Biarlah itu semua jadi misteri sejarah bangsa ini, ambil hikmahnya saja, bukankah itu artinya gambar Palu Arit memperkaya kasanah perhantuan kita? Menggolongkan hantu-demit kuminis dengan bangsa pocong, Tuyul, Suster ngesot, Hantu taman lawang, Kuntilanak, Gendruwo, Kolor Ijo, d.l.l.d.s.t, mungin itu jauh lebih bijak, itu semua jelas tidak sama dengan ‘mengeram kebodohan yang berkelanjutan’ seperti tuduhan om-om kekirian.

Catet, itu markonah khasanah! Oke deh kakak-kakak ke-kirian, baca buku (kanan-kiri) memang penting. Tapi, sekali lagi, urusan asmaramu itu jauh lebih fenting. Jangan menyesali sesudah dia jadi mantan (beneran!). Ini nasehat senior. 

Memang, jika urusan asmara itu hal mudah, maka nasib jomblo tidak akan se-ngenes sekarang. Dibully setiap malam minggu. Asmara adalah soal memanusiakan manusia. Bukan manusia yang memangsa manusia. Ayo, semangat, lepas kejombloanmu kakak? 


Yah, saya kira mungkin kakak-kakak ke-kiri-kiri-an yang masih asik menjomblo sudah terlalu serius meresapi lagu bang Roma – Paling enak menjadi bujangan – itu. Atau mbak-mbak kenes itu terlalu serius membaca status kakak Kip***: Jangan-jangan Jodohku kuminis? Maka, Kalian berdua: bertaubatlah!

1 comment: