Thursday, 5 January 2017

Alangkah pegalnya hidup jika setiap lelucon harus dijelaskan


Rakyat perlu diingatkan kembali. Jadi, sejak jaman bumi ini masih lumpur panas tak ada seorangpun yang pernah merasai kesenangan yang sempurna kecuali mereka yang mudah tertawa. Apalagi jadi rakyat kecil di negeri ini, bila lupa menyiapkan diri untuk tertawa dia akan selalu merasa: alangkah pahitnya jadi Endonesah.

Di awal-awal tahun ini suasana rakyat kecil gelisah - begitupun denganku. Mereka yang tak pernah punya kesempatan korupsi terlibat dalam kerumitan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, dan mereka yang celele’an melempar kritik dan olok-olok di fesbuk.

Mereka mengingatkanku pada kawan-kawan ngaktipis dulu: yang ahirnya kandas dalam perjuangan rasionalitas. Ahirnya aku sendiri juga mengalami, perjuangan untuk idealisme punya lapangannya sendiri. Dan perut punya daerahnya sendiri. 

Kini, merekalah yang tampak olehku. Dan dibalik Poto Profil Fesbuk mereka yang garang itu tersembunyi ketakutan. Bukan ketakutan kalau negara bangsanya runtuh walaupun mereka pernah berjuang untuk kepentingan bangsanya. 

Persetan dengan bangsa. Perut keluarga diatas segala-galanya.
Tak perlu berpanjang lebar, aku kira, masing-masing dari kita juga punya stok bahan untuk ditawakan bukan?

Malam itu, aku mengingat mereka. Tidak bisa semuanya. Mereka yang dulu berjuang bersamaku. Maksudku, kawan-kawan dulu. Aku bisa tertawa sendiri membayangkan kelucuanku dan kelucuan mereka waktu itu. Apalagi membandingkanya dengan kami yang sekarang.

Sedang sekarang aku berbaring aman di tempat tidur. Suatu perbedaan! Dimana kami yang dulu berjuang menahan diri untuk tidak turut gila. Sekarang aku hanya bisa berangan. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat selain menertawakan diri sendiri – karena itu pula mungkin tulisan sejadi-jadinya ini adalah sisa yang aku punya.

Dan ahirnya, terasa betul sekang olehku mengapa aku dulu merasa jijik terhadap mereka yang memilih jalan aman yang tampak tak ada minatnya pada perjuangan bangsa. Waktu itu aku belum mengalami kehidupan berumah tangga. Aku belum mengerti bahwa mereka yang memilih ‘jalan aman’ itupun bertempur mati-matian agar rumah tangganya tidak runtuh.

***
Masih tentang kelucuan diawal tahun ini.

Orang-orang pemerintahan bereaksi atas olok-olok yang tertuju pada mereka. Mulai dari Menteri, anggota DPR dan wakil Polri – ini terkait karena merekalah penentu kebijakan atas kenaikan tarif dasar listrik, BBM dan surat-surat kendaraan yang berhubungan langsung dengan daya beli masyarakat yang dituding memberatkan rakyat kelas menengah kebawah.
Sebagai pihak berwenang mereka kebakaran jenggot dan merasa berkepentingan menjaga marwah masing-masing. Tak terkecuali Bung Presiden yang mendapat mandat mensejahterakan rakyat.

Menurutku, daripada bengak-bengok bahwa semuanya telah sesuai prosedur, mengingatkan rakyat agar selalu sabar: kalau semua akan baik-baik saja, para pembela marwah Pancasila ini sebaiknya sowan dulu ke Syahrini dan belajar darinya bagaimana menyelesaikan masalah dengan rakyat heters: “Ora Urus!”

Percayalah, kalian yang mendapat mandat rakyat. Apapun kebijakan yang kau buat kami manut. Kami menghormatinya sehormat-hormatnya. Negera tidak boleh terlihat kere bukan?
Gedung-gedung dan jembatan diperlukan, bahwa roda ekonomi harus terlihat berjalan maju. Indonesia yang kaya tak boleh diremehkan. Negeri tidak boleh macet hanya karena rakyat kecil menjerit: biarkan ibu-ibu Kendeng menangis, biarkan rakyat mengeluh – karena menangis dan mengeluh itu hanya dilakukan oleh pecundang. Sekali lagi, jadi rakyat haruslah kuat dan gembira.

Pengalaman mengajarkan rakyat sepertiku, bahwa hidup adalah lelucon. Apabila orang tidak bisa tertawa menghibur diri, dia akan menabrak kiri-kanan. Kemudia ia akan merasa: alangkah pahit. Dan kepahitan hidup karena tidak bisa menertawai nasib adalah juga sebuah kepahitan paling yahudi. Susah tertawa membuat kita cepat tua dan memendekan umur. Jadi, tertawa itu memangjangkan umur. Begitu kata orang.

Ditengah lamunanku, pintu di gedor, kulihat jam masih menunjuk angka 9. Ternyata Pak RT.

“Monggo, eh ada apa ya pak?”

Kami duduk di teras. Tanpa diminta istriku membuatkan kami kopi. Pak RT lalu menceritakan bahwa ia tadi baru dipaido warganya. Ia setengah kesal. Lanjut ia bertanya.

“Eh tadi sampeyan ikut ujian SIM masal mas?”

“Enggak, emang kenapa?”

“Percuma, tidak ada yang lulus”

“Lah, terus pie?”

“Ha-ha-ha, ya nggak kepia-kepie, lah wong pak petugasnya bilang begini” Pak RT berdiri sambil macak menirukan Pak Petugas siang tadi di kantor desa.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu tenang saja, jangan kuatir, masih banyak cara lain, jadi, sekali lagi, bapak ibu tidak usah kawatir”.

“Lah, kok apik....”

0 komentar:

Post a Comment