Tuesday, 31 January 2017

Saran Remeh Saja untuk Para Penasehat di Media Sosial


Banjir kritik pada pola hidup kita yang semakin individualis boleh jadi tidak mengubah apa-apa, kalau tidak mau dibilang kritik yang gagal paham. Pandangan sinis pada yang dituduhkan ‘individual-isme’ sebagai hal yang sepenuhnya negatif saya rasa juga kurang bijak. Karena setiap orang punya pengalaman dan perasaanya sendiri dalam setiap usahanya berdamai dengan jaman. Dulu, sebelum Gawai menjadi kebutuhan pokok, kritik pada sikap individual-isme sebagai satu hal yang kurang pantas, mungkin saja benar.

Tapi sejarah juga membuktikan bahwa pada setiap jaman punya citarasanya masing-masing bukan? Tahun sudah berganti, tapi politisi, cenayang dan dukun hampir memiliki suara ‘ramalan’ yang sama: tahun ini tidak akan jauh-jauh beda dengan tahun lalu. Meski pemerintah selalu optimistis dengan laju kembang perekonomian. Yang tentu beda juga dengan apa yang dirasakan masyarakat bawah.

Disini saya sedang tidak ingin meramal, apalagi mencari peluang untuk anda percayai. Tidak.

Sementara, saya mau mengajak anda kembali ke jaman dimana Gawai belum ada: jaman surat-suratan masih tren, telponan diwartel atau telpon umum dengan uang koin yang jika anda telpon keluar kota harus menambahkan kode kota tujuan dengan membuka-buka buku telpon yang tebalnya ngaudubilah.

Pada masa-masa itu, jika kita bertemu dengan kawan yang jarang jumpa pasti bisa langsung ngobrol gayeng, atau bahkan cuma bertemu dengan seseorang yang baru kita kenalpun akan banyak alasan sebagai bahan obrolan. Banyak keakraban yang sulit ditemui di jaman ini: mulai dari tanya alamat rumah, pofesi, seputar keluarga, yang ujung-ujungnya bisa jadi, “eh, ternyata kita ini masih saudara dari nenek ya?”

Bukan, bukan karena orang dulu itu takut di bilang individualis, atau takut dianggap tak ramah lingkungan hingga begitu ceriwis bila bertemu dengan orang lain, melainkan orang yang dianggap individualis jaman sekarang, tidak umum pada jaman itu.

Jadi yang disasar oleh kritik bahwa: ‘individual-isme-lah yang menyebabkan ketidak-peka-an sosial masarakat sekarang’ itu yang tidak sesuai konteks. Lah, namanya manusia lebih perduli pada dirinya sendiri itu biasa. Gampangnya, “lah wes jamane cah?”

Bukankah ada ujaran umum yang mengatakan: lebih baik diam daripada ndobleh gak karuan?, dan sepertinya lingkungan fisik antar-manusia jaman kita ini sedang berpihak pada: lebih baik diam. Bukan begitu?

“Diam kok cerewet ngomong di medsos?”

Bung dan Nona yang sama-sama suka pasang pose cantik sebagai Poto Profil, ngomong adalah cara paling mudah untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran, dan saat ini media sosial memberi kesempatan seluas-luasnya pada setiap orang untuk mengungkapkan isi hati dan kepalanya, tentu saja agar bisa dilihat, sukur didengar, diperhatikan, diapresiasi: yang tidak bisa semua dipenuhi oleh setiap lawan bicara secara fisik.

Tidak seperti orang dulu yang harus bersusah payah dalam berkeluh kesah agar hanya bisa ber-opini tentang satu kejadian jika suara mereka tidak di dengarkan. Paling tidak orang jaman itu haruslah orang yang sudah menyiapkan buku dan pena, baru bisa ngomong.. “dear diary”.

Era ‘blogosfer’ yang mencapai puncaknya pada tahun 2008-an memang sempat digadang-gadang sebagai era bebas nyontong bagi para penulis yang tulisanya terjegal oleh redaktur atau penguasa. Tapi tak disangka media sosial sekelas fesbuk, twetter dan konco berhasil menggunting dalam lipatan, nyalip di tikungan ahir, merangsek dari tengah kerumunan. 

Membuat wajah baru, mewujudkan mimpi ‘nyontong’ bukan hanya milik para penulis-penulis mapan. Sekarang siapa saja boleh bebas ngomong. Kalaupun jaman ‘contongan’ ini punya sisi individual-isme yang dianggap salah. Itu ‘wajar’ jika dilihat dari sisi gerak jaman.

Jika dulu misalkan, satu problem Ekonomi, sosial, budaya hanya bisa di goreng di kampus-kampus yang ahirnya melahirkan hipotesa yang bisa jadi rujukan karena memang domainnya sang empu teori itu dianggap mumpuni. Tapi melakukan ‘cara’ tersebut pada publik media sosial kok ya terkesan maksa banget dan lebih banyak sia-sianya.

Memang hal wajar jika orang-orang ceriwis semakin banyak di media sosial. Mungkin orang berpikir: jangan sampai hidup berjalan seperti lagu, “ kekasih yang tak dianggap”. Kerena itu setiap orang ingin mebuktikan untuk dapat kesaksian dengan memberikan informasi melalui media sosial. Sudah tentu perkara hidup terlalu sempit jika hanya menyoal yang benar dan  yang salah, yang baik dan buruk. Semua selalu saja ada konteknya.

Ingin ikut meramaikan ramalan tapi juga tidak bermaksud jadi peramal, setelah menyelami mereka yang memilih diam, yang tidak mau menjawab kritikan padahal mampu. Saya sendiri tidak bertanya, tapi kira-kira begini, dan saya sendiri sering melakukan ini, mudah-mudahan tidak terkesan sombong, “Biarkan saja, nanti suatu saat toh akan mengerti sendiri” (Qs. Al Furqon 63).

Tabik.

0 komentar:

Post a Comment