Tuesday, 12 September 2017

Jadilah Manusia Baik Yo Le?

Dari umur 3 Averro sudah mulai punya kesibukan sendiri. Sekarang umurnya sudah 5, bertambah pula kesibukannya. Pagi, jam 8 ke TK sampai jam tengah 11, jam 3 sore ke rumah tahfiz. Nah, mulai hari ini dia 'karep' les privat untuk penguatan calistung (baca tulis berhitung) dari jam tengah 11 sampai jam 12an. Meski ada yang bilang kalok penekanan pengengetahuan calistung di umur 5 itu berpotensi merusak psikologisnya kelak, "Lah umur segitu kan belum waktunya???"
Katanya juga, umur 5 tahunan itu nggak boleh diberi pelajaran laiknya pelajar pada umumnya, wong namanya saja "Taman Kanak-kanak", bukan sekolah kanak-kanak. Harusnya kalau taman itu ya bermain. Dengan asumsi yang saya kira nggebyahuyah: "wong di Finlandia aja kagak begitu...."
Eh Om, Tante, mmm.. jadi begini, pendidikan itu seharusnya ya menjawab realita sosial. Sedangkan ralitas solial Indonesia itu jelas tidak bisa disamakan dengan Finlandia. Sampai disini sudah ngeh?
Baiklah, Finlandia (yang katanya punya sistem pendidian terbaik di dunia) dengan Indonesia itu bedanya jauh banget, misalnya, hulu-hilirnya pendidikan di negara mereka itu jelas nggak sama dengan kita. Disana, Finlandia, sekolah itu sudah jadi hobby tua-muda jeh? lah kita, sampai dengan 2017 saja sistem pendidikan masih terus jadi polemik. Bahkan IPB yang digadang-gadang mecetak petani modern pun, Kata Jokowi lebih banyak mencetak bangkir semata. Salah? Yo enggak. Tapi begitulah realitas sosial kita bukan?
Disisi lain. Yang pada kenyatanya, selama ini sekolah kita itu baru sampai level menang2an, ajang Ranking2an, hanya dia yang rank 1, 2 dan 3 yang dianggap. Trus yang rank 4 sampai 40 dikemankan? Yo embuh. Mereka, anak2 (sisa) itu, masih dianggap manusia saja masih untung. Itu nyata terjadi loh di sudut-sudut Indonesia ini.
Dari berbagai sumber yang saya dapat, "kenapa pendidikan di Finlandia itu dinilai bagus??" salah satu poin pentingnya adalah mereka itu, semuanya, pelajar, itu BAHAGIA. Nggak cuma mereka yang dapat rank 1,2,3. Tapi. Semuanya!
Jadi, (asal) BAHAGIA itulah poin yang menurut saya penting. Selama anak-anak bahagia melakoninya. Saya sih oke saja. Lah wong kalok Averro mau jadi pilot, saat ini juga akan langsung tak belikan jet dan heli jeh, miniatur tapi. Hahaha.
Nah, Averro, setiap ke rumah Tahfiz, dia itu selalu berjuang bisa datang duluan, dengan begitu dia bisa membantu ustad2zah menata bangku dan kursi dikelasnya, dengan bonus: siapa datang duluan dialah yang akan duduk didepan. Ah, dengan itu saja Averro sudah bahagia. Nggak susah kan buat anak bahagia? Gak kayak kamu, iya kamu, Bahagia itu ya kalok dapat sesuatu yang harganya mahal... Hahaha.
Nah, orang tua kek saya ini ya cuma bisa mendukung apa-apa yang membuat dia bahagia. Yang positif tranformatif tentu. Kalau ada satu hal positif dia ndak suka, lah ya banyak hal-hal positif lainnya sebagai pilihan bukan? Nyatanya, tantangan kita sebagai orang tua dari jaman ke jaman sejatinya bukan sistem pendidikan atau apalah-apalah. Tapi ya dikembalikan pada kita sendiri sebagai orang tua.
"Kalau nurutmu cuman penting bahagia begitu, bijimana masadepannya....???" Eh, Om, Tante..... Begini ya, seperti halnya naik mobil, sekolah itu ada ya untuk melancarkan perjalanan anak agar sampai tujuan, ya cita-cita-nya itu. Bukan untuk gengsi2an orang tuanya. Mbok mpeyan itu jangan kejauhan gitu mikirnya. Mereka pebisnis sekolah-sekolah mahal itu bilang penelitian ini-itu, ndalil ini-itu, yoo enggak harus semuanya dituruti hanya karena punya dalil ba-bi-bu. Yo mereka begitu yo nggak salah salah juga sih. Namanya saja juwalan ya boleh2 saja. Haha.
Yang jelas, Averro tahun depan rencananya masuk SD. Ia saya siapkan untuk jadi murid SD negeri seperti orang tuanya dulu. Toh Eyang Putri dan Mbah putrinya juga guru SD. Selain faktor biaya (bagi saya menyelenggarakan pendidikan dasar dengan biaya sekolah mahal itu omong kosong), juga untuk menanamkan sikap toleran dalam dirinya. Dengan sekolah di SD, ia akan bergaul dengan murid dari beragam latar, terutama agama. Semoga sekolah membuatmu menjadi manusia yang lebih baik, Le.

0 komentar:

Post a Comment